TERENGGANU, MALAYSIA – Dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Setelah sebelumnya sukses mewakili Indonesia di ajang bergengsi di Shanghai, China, kini pakar dari USK kembali dipercaya sebagai narasumber kunci dalam kegiatan “ASEAN Mudcrab Aquaculture and Biodiversity 2025”.

Acara yang berlangsung pada 22–23 Desember 2025 ini diselenggarakan oleh Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia, bertempat di Terengganu. Forum ini menjadi titik temu strategis bagi para peneliti, praktisi, dan pengambil kebijakan di kawasan Asia Tenggara untuk membahas keberlanjutan dan teknologi budidaya kepiting bakau.

Dalam kesempatan tersebut, Dedi, dosen FKP USK yang menjadi delegasi tunggal dari Indonesia, memaparkan materi bertajuk “Mudcrab Culture and Practice in Aceh, Indonesia”. Dalam presentasinya, Dedi mengulas secara mendalam mengenai teknik budidaya kepiting bakau yang dipraktikkan di Aceh, tantangan lingkungan yang dihadapi, serta potensi biodiversitas lokal yang menjadi keunggulan Indonesia di pasar global.

Selain perwakilan dari Indonesia, panitia juga menghadirkan pakar kepiting bakau kenamaan dari Thailand dan Filipina untuk berbagi perspektif mengenai inovasi akuakultur di negara masing-masing.

Kehadiran delegasi USK menarik perhatian besar dari para peserta yang berasal dari berbagai negara ASEAN. Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi, di mana banyak peserta mengajukan pertanyaan kritis terkait implementasi teknis dan peluang kolaborasi riset. Selain itu, para peserta menunjukkan minat yang sangat besar terhadap rangkaian lokakarya (workshop) yang menjadi bagian dari agenda ini.

Partisipasi FKP USK dalam forum internasional ini mempertegas posisi Universitas Syiah Kuala sebagai pusat unggulan riset kelautan dan perikanan, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan dan kelestarian biodiversitas di kawasan regional.

Categories:

Tags:

Comments are closed