Banda Aceh — Program Studi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan (PSP), Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala (FKP USK), menyelenggarakan Workshop Analisis Data Stock Assessment Sumber Daya Ikan Aceh: Catch Per Unit Effort (CPUE) pada 27–29 Juli 2026 di Hotel Ayani, Banda Aceh. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan perikanan berbasis data ilmiah, sekaligus memperkuat pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan di Provinsi Aceh.
Workshop melibatkan dosen PSP FKP USK bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yayasan Kebersamaan untuk Lautan, Rekam Nusantara Foundation, serta berbagai mitra yang memiliki perhatian terhadap pengelolaan sumber daya perikanan.

Dari Data Pendaratan Menuju Rekomendasi Pengelolaan
Selama tiga hari, peserta dibekali pemahaman mengenai konsep dasar stock assessment serta rangkaian pengolahan, standardisasi, analisis, hingga interpretasi data Catch Per Unit Effort (CPUE).
CPUE — hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan — merupakan salah satu indikator yang paling lazim digunakan untuk menggambarkan kondisi stok ikan, terutama pada perikanan yang datanya terbatas. Penurunan CPUE dari waktu ke waktu dapat menjadi sinyal menipisnya ketersediaan sumber daya, sementara kestabilannya menunjukkan pemanfaatan yang masih dalam batas wajar.
Namun angka CPUE tidak dapat dibaca begitu saja. Perbedaan jenis alat tangkap, ukuran kapal, musim, dan daerah penangkapan membuat data mentah perlu distandardisasi terlebih dahulu agar perbandingan antarwaktu dan antarlokasi menjadi sahih. Proses inilah yang menjadi salah satu fokus utama pelatihan.
Fokus pada Hiu, Pari, dan Ikan Karang Demersal
Analisis dalam workshop diarahkan pada komoditas hiu, pari, dan ikan karang demersal — tiga kelompok yang menuntut perhatian khusus dalam pengelolaan perikanan Aceh.
Hiu dan pari dikenal memiliki pertumbuhan lambat, kematangan seksual yang lama, dan jumlah keturunan yang sedikit, sehingga populasinya pulih jauh lebih lambat dibanding jenis ikan lain ketika mengalami tekanan penangkapan. Adapun ikan karang demersal berperan penting bagi konsumsi masyarakat dan perekonomian nelayan skala kecil, sekaligus terikat erat pada kesehatan ekosistem terumbu karang.
Hasil analisis diharapkan menjadi dasar penyusunan rekomendasi pengelolaan perikanan yang berbasis bukti ilmiah (evidence-based fisheries management).
Memperkuat Jejaring FIP2B Aceh
Melalui workshop ini, peserta diharapkan mampu menghasilkan informasi ilmiah yang akurat untuk mendukung penyusunan kebijakan, evaluasi pengelolaan, serta pemanfaatan sumber daya ikan yang berkelanjutan.
Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk memperkuat jejaring kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, organisasi masyarakat, dan berbagai mitra dalam mendukung pelaksanaan Forum Ilmiah Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan (FIP2B) Aceh — forum kolaboratif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pengelolaan perikanan di Aceh.
Pertemuan lintas lembaga semacam ini menjadi penting karena data perikanan tersebar di banyak pihak. Kesamaan metode analisis memungkinkan data dari berbagai sumber dibaca dengan kerangka yang sama, sehingga rekomendasi yang dihasilkan lebih kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Comments are closed