Aceh Besar — Dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala (FKP USK) berkolaborasi dengan dosen Teknik Geofisika USK serta melibatkan mahasiswa dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat pada 5 Agustus 2026 di Desa Lam Nga, Aceh Besar. Kegiatan tersebut mengusung program “Pengembangan Teknologi Pembesaran Tiram Berbasis Probiotik sebagai Upaya Penguatan Ketahanan Pangan dan Ekonomi Kelompok Mangrove GERBANG.”

Kegiatan diketuai Dr. Nurfadillah, S.Si., M.Si. (Budidaya Perairan), dengan anggota Iko Imelda Arisa, S.Kel., M.Si. (Teknologi Industri Hasil Perikanan) dan Ir. Zakia Masrurah, S.T., M.T. (Teknik Geofisika). Program ini menghadirkan pendampingan serta transfer teknologi budidaya tiram berbasis probiotik guna meningkatkan produktivitas budidaya, memperkuat ketahanan pangan, dan mendukung perekonomian masyarakat pesisir melalui pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan.

Tiram, Komoditas Pesisir yang Belum Optimal

Tiram merupakan komoditas yang tumbuh alami di kawasan mangrove dan perairan payau. Sebagai organisme penyaring, tiram tidak memerlukan pakan tambahan sehingga biaya produksinya relatif rendah. Selama ini, sebagian besar tiram di kawasan pesisir Aceh masih dimanfaatkan melalui pengumpulan langsung dari alam, dengan hasil yang tidak menentu dan ukuran yang beragam.

Melalui pendekatan pembesaran terkontrol, kelompok masyarakat diarahkan untuk membudidayakan tiram pada wadah atau substrat yang dirancang khusus. Cara ini memungkinkan panen yang lebih terjadwal, ukuran yang lebih seragam, sekaligus mengurangi tekanan pengambilan dari populasi alami.

Peran Probiotik dan Kolaborasi Lintas Disiplin

Penerapan teknologi berbasis probiotik menjadi inti dari program ini. Probiotik dimanfaatkan untuk menjaga kualitas lingkungan pemeliharaan dan menekan pertumbuhan bakteri merugikan, sehingga tingkat kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan tiram dapat ditingkatkan. Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip budidaya ramah lingkungan yang meminimalkan penggunaan bahan kimia.

Keterlibatan dosen Teknik Geofisika memberi dimensi tambahan pada program, khususnya dalam pembacaan karakteristik lingkungan perairan dan penentuan lokasi budidaya yang sesuai. Kolaborasi lintas fakultas semacam ini menunjukkan bahwa persoalan di masyarakat pesisir kerap menuntut penyelesaian dari lebih dari satu sudut keilmuan.

Mahasiswa yang dilibatkan memperoleh pengalaman langsung dalam mendampingi masyarakat, sekaligus menghubungkan teori yang dipelajari di ruang kuliah dengan praktik di lapangan.

Mangrove sebagai Ruang Produktif

Program ini menyasar Kelompok Mangrove GERBANG di Desa Lam Nga, yang selama ini aktif dalam pengelolaan kawasan mangrove. Dengan menjadikan budidaya tiram sebagai sumber penghasilan, kawasan mangrove memperoleh nilai ekonomi langsung bagi masyarakat — sehingga upaya pelestariannya memiliki insentif yang nyata, bukan semata kewajiban lingkungan.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yaitu SDG 2 (Zero Hunger), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals).

Diharapkan pendampingan ini berlanjut hingga kelompok mampu menjalankan budidaya secara mandiri, dan model yang dikembangkan dapat direplikasi di desa-desa pesisir lain dengan karakteristik kawasan serupa.

Categories:

Tags:

Comments are closed