Banda Aceh, 9 Agustus 2025 — Tim dosen Universitas Syiah Kuala (USK) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema “Pemberdayaan Petani Garam Kristal Geomembran Gampong Neuheun melalui Branding dan Diversifikasi Produk Berbasis Garam” melalui skema Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Produk Teknologi Tepat Guna (PKMBP-TTG) 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk garam lokal, sekaligus memberikan keterampilan baru kepada para petani garam dalam pengembangan produk turunan yang inovatif.

Kegiatan pengabdian ini diketuai oleh Dr. Vicky Prajaputra, M.Si., dosen Program Studi Ilmu Kelautan USK, dengan anggota tim dosen lintas disiplin yang terdiri dari Apt. Nadia Isnaini, S.Farm., M.Sc. (Program Studi Farmasi), Adli Waliul Perdana, S.Kel., M.Si. (Program Studi Budidaya Perairan), Adinda Gusti Vonna (Dosen Program Studi Agribisnis), Fajar Fakri (Dosen Program Studi Farmasi) dan Ulil Amri Mc, S.Pi., M.Si. (Program Studi Ilmu Kelautan). Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa lintas program studi yang berperan aktif dalam persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.

Latar belakang program ini berawal dari potensi usaha garam kristal geomembran yang dihasilkan masyarakat Gampong Neuheun, yang memiliki kualitas baik namun belum memiliki strategi pemasaran dan kemasan yang menarik. Selain itu, pemanfaatan garam sebagai bahan baku diversifikasi produk masih terbatas. Melalui kegiatan ini, tim pengabdi mendorong inovasi dengan mengembangkan produk turunan berupa sabun cuci tangan berbasis garam.

Pelaksanaan kegiatan mencakup beberapa tahapan, antara lain branding kemasan garam dan pemasaran produk, manajemen usaha melalui pembukuan sederhana, serta praktik pembuatan sabun cuci tangan berbasis garam. Peserta kegiatan terdiri dari anggota kelompok usaha garam kristal geomembran yang sangat antusias mengikuti setiap sesi pelatihan.

Dalam sambutannya, Dr. Vicky Prajaputra, M.Si. menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung keberhasilan program. “Kegiatan ini adalah bentuk kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan masyarakat untuk mengangkat potensi lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ujarnya. Ia menambahkan, keberhasilan program ini tidak lepas dari sinergi antara petani garam, tim dosen, mahasiswa, serta para pemateri yang berbagi keahlian.

Hasil dari kegiatan ini tidak hanya berupa peningkatan keterampilan peserta dalam memproduksi dan mengemas garam, tetapi juga lahirnya produk inovatif sabun cuci tangan berbasis garam yang siap dipasarkan. Produk ini diharapkan dapat menjadi alternatif usaha baru bagi kelompok petani garam, sehingga dapat menambah pendapatan dan memperluas peluang bisnis mereka.

Ketua Mitra Garam, Junaidi, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terlaksananya kegiatan ini. “Kami sangat berterima kasih kepada tim pengabdi dari USK yang telah memberikan pengetahuan dan keterampilan baru kepada kami. Selama ini kami hanya fokus pada produksi garam, tetapi melalui pelatihan ini kami jadi tahu bagaimana memanfaatkan garam untuk membuat produk lain seperti sabun cuci tangan. Kami berharap kerja sama ini bisa terus berlanjut, sehingga usaha garam kami semakin berkembang dan bisa bersaing di pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Ke depan, tim pengabdi USK berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan kepada kelompok petani garam di Gampong Neuheun. Harapannya, branding kemasan dan diversifikasi produk yang telah dikembangkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi di daerah pesisir lainnya di Aceh.

Categories:

Tags:

Comments are closed