Banda Aceh, 1–3 Juli 2026 – Dalam upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang monitoring ekosistem terumbu karang, Pusat Riset Kelautan dan Perikanan (PRKP) Universitas Syiah Kuala bekerja sama dengan Fakultas Kelautan dan Perikanan USK serta Wildlife Conservation Society (WCS) Program Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Pengambilan Data Terumbu Karang Menggunakan Metode Underwater Photo Transect (UPT) dan Point Intercept Transect (PIT), Pengambilan Data Ikan Karang Menggunakan Metode Underwater Visual Census (UVC), serta Analisis Data Menggunakan Platform MERMAID. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari di bawah tanggung jawab Maria Ulfah, S.Kel., M.Si., dosen Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Syiah Kuala sekaligus Pembina II Ocean Diving Club (ODC).
Pelatihan diikuti oleh 28 peserta, yang terdiri atas 20 peserta dari Ocean Diving Club Universitas Syiah Kuala, 4 peserta dari Turtle Diving Club Universitas Malikussaleh, dan 4 peserta dari Universitas Teuku Umar. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas mahasiswa dan komunitas selam dalam melakukan monitoring ekosistem terumbu karang sesuai dengan standar ilmiah yang berlaku.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Haekal Azief Haridhi, Ph.D., selaku Direktur Pusat Riset Kelautan dan Perikanan (PRKP) Universitas Syiah Kuala. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa monitoring ekosistem terumbu karang merupakan salah satu kegiatan penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Melalui pelatihan ini diharapkan lahir sumber daya manusia yang memiliki kemampuan teknis dalam melakukan survei bawah air serta mampu menghasilkan data yang akurat sebagai dasar penelitian, konservasi, dan pengambilan kebijakan di bidang kelautan.

Pelatihan menghadirkan dua narasumber dari Wildlife Conservation Society (WCS) Program Indonesia yang memiliki pengalaman luas dalam monitoring ekosistem pesisir. Cahya Himawan, Ilmuwan Terumbu Karang dan Mangrove WCS Program Indonesia untuk Nusa Tenggara Barat, menyampaikan materi mengenai teknik pengambilan data terumbu karang menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) dan Point Intercept Transect (PIT). Sementara itu, materi mengenai pengambilan data ikan karang menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC) disampaikan oleh Mohammad Fatwa Arfi, Asisten Program Kelautan WCS Aceh. Selain menjelaskan konsep dasar monitoring, kedua narasumber juga membagikan pengalaman lapangan serta standar pelaksanaan survei yang diterapkan dalam berbagai program konservasi.
Pada hari pertama, Rabu, 1 Juli 2026, kegiatan difokuskan pada penyampaian materi di dalam ruangan mengenai teknik monitoring terumbu karang dan ikan karang menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT), Point Intercept Transect (PIT), dan Underwater Visual Census (UVC). Peserta memperoleh pemahaman mengenai konsep dasar monitoring, teknik penentuan lokasi survei, pemasangan transek, prosedur pengambilan foto bawah air, metode pengamatan ikan karang, hingga tata cara pencatatan data sesuai dengan standar monitoring ekosistem pesisir.
Memasuki hari kedua, Kamis, 2 Juli 2026, seluruh peserta melaksanakan praktik lapangan di Perairan Inong Balee, Aceh Besar. Pada sesi ini, peserta mengaplikasikan materi yang telah diperoleh dengan melakukan pengambilan data terumbu karang menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) dan Point Intercept Transect (PIT), serta melakukan pengamatan ikan karang menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC). Selama praktik berlangsung, peserta didampingi langsung oleh narasumber dan tim fasilitator sehingga setiap tahapan monitoring dapat dilakukan sesuai prosedur, mulai dari pemasangan transek, dokumentasi bawah air, hingga pencatatan data hasil pengamatan.
Kegiatan dilanjutkan pada hari ketiga, Jumat, 3 Juli 2026, dengan sesi pengolahan dan analisis data menggunakan Platform MERMAID. Peserta mempelajari proses memasukkan data hasil survei, melakukan validasi data, mengelola informasi lokasi pengamatan, serta memanfaatkan berbagai fitur analisis yang tersedia pada platform tersebut. Melalui sesi ini, peserta diharapkan mampu mengelola data monitoring secara lebih sistematis, terdokumentasi dengan baik, serta menghasilkan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian dan pengelolaan ekosistem terumbu karang.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, peserta mengikuti sesi evaluasi dan diskusi untuk merefleksikan materi serta pengalaman yang diperoleh selama tiga hari pelatihan. Kegiatan kemudian ditutup secara resmi dengan penyampaian pesan dan harapan agar ilmu yang telah diperoleh dapat diterapkan dalam kegiatan monitoring di berbagai wilayah pesisir di Aceh. Selain meningkatkan keterampilan teknis peserta dalam pengambilan dan pengolahan data terumbu karang serta ikan karang, pelatihan ini juga menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi antara WCS Program Indonesia dengan komunitas selam dari Universitas Syiah Kuala, Universitas Malikussaleh, dan Universitas Teuku Umar dalam mendukung upaya konservasi ekosistem laut secara berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini diharapkan seluruh peserta mampu menerapkan metode Underwater Photo Transect (UPT), Point Intercept Transect (PIT), dan Underwater Visual Census (UVC) sesuai standar, serta mengelola hasil monitoring menggunakan Platform MERMAID secara mandiri. Kompetensi yang diperoleh selama tiga hari pelatihan diharapkan dapat mendukung kegiatan monitoring terumbu karang dan ikan karang secara berkelanjutan sehingga menghasilkan data yang akurat sebagai dasar pengelolaan, penelitian, dan pelestarian ekosistem pesisir di Aceh. Kegiatan pelatihan ini juga merupakan bagian dari upaya memperkuat tim lokal monitoring Aceh dan Coral Reef Network Aceh yang telah diinisiasi oleh Universitas Syiah Kuala dan WCS Program Indonesia sejak tahun 2021. Melalui penguatan kapasitas ini diharapkan jejaring monitoring terumbu karang di Aceh semakin berkembang dan mampu menyediakan data ilmiah yang berkelanjutan untuk mendukung pengelolaan sumber daya pesisir dan laut secara efektif.
Comments are closed